Dua tahun dalam kungkungan pandemi, dua tahun pula lalu lintas perjalanan hanya seputar, kamar tidur, dapur, ruang tengah. Atau boleh jadi hanya dua arah: kamar tidur – dapur. Sesekali menyiangi tanaman di halaman atau kebun. Praktis, rutinitas di kantor atau tempat kerja menjadi sirna. Pandemi memang menghantam setiap sisi rutinitas.

Semua rencana perjalanan gagal terlaksana gara-gara covid-19, termasuk perjalanan untuk melakukan studi banding. Kegagalan ini patut disyukuri, karena sebenarnya studi banding, dipandang oleh sebagian orang lebih banyak tidak bermanfaat. Termasuk Menteri sekalipun. 

Mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), Asman Abnur sendiri pernah menyentil Aparatur Sipil Negara (ASN),  “Jangan keseringan studi banding. Hasilnya cuma banding-bandingkan, yang dibawa pula oleh-oleh saja. Anggaran habis juga”. Lebih lanjut, “Kedepan, harus studi tiru. Selesai kunjungan ke daerah yang lebih baik, pulangnya langsung ditirukan kemajuan dan kelebihan daerah tersebut”. 

Studi tiru merupakan kegiatan belajar kepada institusi yang lebih kompeten dengan tujuan untuk peningkatan mutu, perbaikan sistem, penentuan kebijakan, perbaikan dan tata kelola lainnya. Sedangkan Studi banding dapat diartikan sebagai riset terhadap sesuatu hal. Contohnya, sistem manajemen yang dipakai pada lembaga lain, dibandingkan dengan manajemen yang dipakai sendiri. Dari temuan-temuan di lapangan, dapat dilakukan evaluasi dan memperbaiki kekurangan yang ada.

Dalam dunia Teknologi Informasi ada istilah adigium, lihat, copy, tempel, modif. Artinya, dilihat terlebih dahulu sisi-sisi keunggulannya atau kebaikannya. Bila dirasa cukup menarik, copykan, tempel dan dimodifikasi. Tetap harus hati-hati. Ingat ada undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik. Aturan ini mengharamkan menjiplak, tanpa menyebutkan sumbernya. 

Jum’at, 11 November 2022 rombongan Badan Kerja Sama (BKS) SMP – MTs. Muhammadiyah Kota Yogyakarta mengagendakan studi tiru di SMP Muhammadiyah 8 Jakarta dan Internasional Islamic Secondary Shool Jakarta. Sepuluh SMP, satu Tsanawiyah dan satu Sekolah Dasar Muhammadiyah siap mengirimkan delegasinya. Pasukan sekolah Muhammadiyah ini telah siap dengan gadget recording, yang ditanam dengan memori cukup besar, agar hasil rekaman optimal.

Kedua Lembaga Pendidikan itu dipilih atas asumsi bahwa mereka memiliki keunggulan dalam bidang tertentu. Secara akademis maupun non akademis pun dapat dipertanggung jawabkan. Secara virtual, dengan kedua lembaga telah terjalin komunikasi yang intens, yang terkait dengan kerjasama.  

Apakah studi tiru akan bermanfaat? tergantung dari masing-masing sekolah dalam meneropong aktivitas kedua sekolah. Tahap eksekusi menjadi sangat penting, karena harus dibarengi dengan situasi dan kondisi. Keliru menafsirkan rekam data, salah menganalisis indikator, akan berakibat fatal dalam kinerja tata kelola sekolah.